Pencarian yang Hangat dan Haru


“Madre” – Dee
Rabu, 10 Agustus 2011, tepat pukul sebelas malam saya selesai membaca sebuah buku berjudul “Madre”. Sebelum melanjutkan lebih jauh, saya ingin menambahkan sedikit informasi bahwa saya sedang menderita semacam low back pain saat membuat catatan ini. Akibat dari menulis dengan posisi tubuh kaku untuk berjam-jam hampir setiap hari selama beberapa minggu terakhir. Dokter tempat saya berkonsultasi dua hari sebelumnya menyuruh saya untuk menghindari aktivitas yang membuat otot bekerja berat, seperti olahraga dengan beban, berjalan kaki jarak jauh, atau bepergian jauh, dan juga, menulis seperti yang sedang saya lakukan saat ini.
Tapi entah kenapa, mengenyahkan segala pantangan itu, saya tetap ingin membuat catatan ini. Ada semacam perasaan bersalah terhadap diri saya sendiri jika saya berhenti pada tahap membaca “Madre” saja. Saya ingin menuliskan apa yang saya rasakan saat membaca benda itu. Saya ingin menuliskan keterkejutan saya. Saya ingin menuliskan keharuan saya. Saya ingin menuliskan semuanya.
Maka dengan mengambil risiko sakit di punggung bawah saya menjadi lebih lama sembuh, saya membuat catatan ini. Catatan setelah membaca “Madre”, yang sebenarnya tidak ditujukan untuk siapa-siapa selain untuk diri saya sendiri.
- – -
Ada beberapa judul tulisan yang terangkum dalam “Madre”. Tapi saya tak hendak bercerita tentang semuanya. Saya ingin bercerita tentang bagian yang paling saya sukai saja.
“Madre”, yang menjadi judul buku ini sendiri adalah judul salah satu cerita yang berada di dalamnya. Mengambil porsi paling banyak dibanding judul-judul lain, sebanyak kurang lebih 70 halaman, di mana posisi ke-dua ditempati oleh sebuah cerita berjudul “Menunggu Layang-layang” dengan panjang sekitar 30 halaman dan “Have You Ever?” sepanjang kira-kira 20 halaman; judul-judul lainnya adalah tulisan serupa puisi yang panjangnya tak lebih dari tiga halaman paling banyak.
Oke. Sampai paragraf ini punggung saya mulai sakit.
Di ‘bagian luar’, “Madre” bercerita tentang sebuah perjuangan menghidupkan kembali toko roti yang sudah renta. Namun di ‘bagian dalam’nya sebenarnya lebih dari itu. “Madre” adalah sebuah kisah perjalanan memenuhi tujuan hidup seseorang. Kisah tentang keterikatan hubungan sejarah dan keluarga. Dicampur sedikit colekan tentang makna kebetulan dan takdir.
Ada beberapa tokoh utama di sana: Tansen, Pak Hadi, dan Mei. Saya ingin memaparkan satu demi satu watak mereka, tapi saya khawatir rasa nyeri di punggung saya tak mau diajak kompromi. Maka lebih baik saya langsung mengatakan bahwa cerita ini bagus.
(Udah? Segitu aja? “Bagus”?)
Ya, bagus. Tapi baiknya untuk menghindari lemparan botol, atau dalam hal ini yang masuk akal adalah klik-an tombol close pada halaman catatan ini, maka saya ingin mengungkapkan hal lain.
Saat membaca “Madre”, ada semacam kehangatan dan ketenangan yang aneh yang menyelusup ke dalam tubuh saya. Bagaimana sikap Pak Hadi kepada Tansen. Bagaimana suasana berkumpulnya ex-pegawai ‘Tan de Bakker’ yang sudah lawas. Bagaimana suasana sebuah keluarga yang begitu nyaman dan membuat betah. Seketika muncul perasaan rindu di diri saya akan hal-hal itu.
Selesai membaca “Madre”, saya tersenyum-senyum sendiri. Perasaan hangat itu masih berputar-putar di dada. Saya meminum air mineral dari botol 1500 ml di sebelah kasur saya. Saran dari dokter, memperbanyak minum air putih, walau sedari kecil saya memang sudah hobi minum air putih.
Membaca “Menunggu Layang-Layang”, saya ditarik keluar dari ruangan yang hangat dan tenang di toko roti ‘Tansen de Bakker’ dan dijebloskan ke ruangan lain yang membuat gelisah dan jantung berdebar. Saya terjebak di antara Christian dan Starla. Saya terjebak di antara perasaan mereka yang bertolak kutub. Saya terjebak di antara rasa rindu mereka yang tarik-menarik begitu kuat. Saya terjebak di antara mereka yang sempat mengingkari hati dan mengaburkan keinginan masing-masing.
.“…Ternyata kita sama, Che. Aku dan kamu sama-sama manusia kesepian. Bedanya, aku mencari. Kamu menunggu.”
- – -
Dee berkisah lewat “Madre” dengan cara yang serupa, tenang dan ringan. Beberapa kali ia menyelipkan lawakan yang sukses membuat saya mulai dari sekadar terkekeh sampai terbahak-bahak. Dan yang saya senang ia (terlihat) tidak berusaha untuk itu. Saya sendiri belum banyak membaca buku Dee. Hanya “Filosofi Kopi”, dan “Madre” ini. Yang terlihat sangat berbeda adalah humor yang terdapat di “Madre”. Saya tahu Dee adalah seorang pelawak. Dia hanya sedang mendalami lawakannya lewat menulis dan  bertani.
Ah. Punggung saya mulai mengajak berkelahi. Sepertinya harus segera saya sudahi. Saya memang mengambil risiko membuat catatan ini, tapi tidak lucu kalau setelah ini saya, pemuda 22 tahun terpaksa berjalan kaki dengan punggung membungkuk dan menjadi personil tambahan ex-pegawai ‘Tan de Bakker’.
- – -
Membaca “Madre”, saya semakin percaya bahwa semesta memiliki konspirasinya sendiri yang pada suatu titik tak akan sedikit pun bisa dilawan. Kita hanya bisa menerima, merelakan. Hingga pada akhirnya segala pertanyaan yang berkecamuk dalam kepala dan dada menemukan jawabannya, yang bahkan kita sendiri sudah tahu sedari awal.
Tapi bahkan kunci kamar yang hilang sepuluh senti dari tempat tidur perlu pencarian hingga berjam-jam ke seluruh sudut rumah, bukan?
(fin)
. . . . Sumber: entahlah. waktu saia copas dari blog sobat, saia lupa copy alamat blog-nya. setelah saia tanyain mbah google sesuai judul, ternyata nyasar ke sebuah forum. Berarti artikel aslinya dari forum tersebut kali ya?

Semoga artikel Pencarian yang Hangat dan Haru bermanfaat bagi Anda.

Apakah artikel ini bermanfaat?...Bagikan artikel kepada rekan via:

Posting Komentar

TERIMAKASIH KOMENTAR ANDA