SEPOTONG BIBIR PALING INDAH DI DUNIA
Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia
Dari Fantasi dan Dongeng yang Cantik ke Kisah Kematian yang Misterius
—Menegaskan Image Fiksimini
Nyaris seluruh cerita dalam “Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia” adalah sekumpulan fiksimini dan berupa kumpulan cerita pendek juga. Jadi seperti kumpulan cerita pendek dalam kumpulan cerita pendek. Bisa dilihat dari cerpen berjudul ‘Empat Cerita Buat Cinta’ yang ternyata adalah kumpulan dari empat buah cerpen yang beberapa di antaranya sudah pernah saya baca di koran minggu maupun di buku antologi cerpen lain: “Pemetik Air Mata”, “Penyemai Sunyi”, “Penjahit Kesedihan”, “Pelancong Kepedihan”. Begitu pula pada cerpen berjudul ‘Cerita yang Menetes dari Pohon Natal’ yang terdiri dari tiga buah cerpen lain: “Parousia”, “Mawar di Tiang Gantungan”, “Serenade Kunang-kunang”. Hanya dua judul cerpen yang merupakan cerpen tunggal, yakni ‘Kartu Pos dari Surga’, ‘Permen’, dan ‘Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia’. Sementara cerpen sisanya yakni ’20 Keping Puzzle Cerita’, ‘Episode’, ‘Variasi bagi Kematian yang Seksi’, dan ‘Perihal Orang Miskin yang Bahagia’ adalah jelas sebuah fiksimini.
Kenapa cerpen-cerpen tersebut dikumpulkan dan diberi payung satu judul lain, tidak dipajang sebagai cerpen tunggal yang berdiri sendiri (dengan judul sendiri seperti cerpen ‘‘Kartu Pos dari Surga’, ‘Permen’, dan ‘Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia’?) Ini sepertinya dilakukan untuk menegaskan image fiksimini yang sudah melekat di benak pembaca tulisan-tulisan fiksi Agus Noor. Saya kira kalau memang ada cerpen-cerpen lain yang senada atau setema dengan ‘Kartu Pos dari Surga’, ‘Permen’, atau‘Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia’, maka mungkin akan dikumpulkan juga seperti itu dan diberi payung sebuah judul lain.
—Fantasi dan Dongeng yang Cantik
Membaca cerpen-cerpen dalam “Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia” seperti membaca sebuah dongeng atau fantasi yang surreal sekaligus cantik. Pada cerpen‘Empat Cerita Buat Cinta’, (subcerpen?) “Pemetik Air Mata” diceritakan tentang peri-peri pemetik airmata yang memetik airmata (ya iyalah) orang-orang yang sedang menangis (ya iyaalah, lagi.. capede). Cantik di sini maksud saya adalah bagaimana cara Agus Noor merangkai ceritanya dengan kalimat-kalimat yang lembut dan sesekali seolah berkilau bak tetesan airmata hasil tampungan para peri pemetik airmata yang dijadikan ‘butir-butir kristal bening yang menempel dan bergelantungan nyaris memenuhi seluruh langit-langit stalaktit di mana ribuan peri mungil tampak beterbangan lalu-lalang’.
Surreal seperti misalnya pada cerpen ‘Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia’ yang menceritakan tentang kisah cinta segitiga antara Maneka, Alina, dan Sukab. Tentang Maneka yang tiba-tiba di suatu hari mendapat kiriman sepotong bibir dari Sukab, yang sudah lama tak ada datang kabarnya. Juga Alina yang memang sering mendapat kiriman dari Sukab, berupa potongan-potongan telinga. Dan banyak lagi yang lain di cerpen yang lain.
—Kisah yang Misterius dan Penuh Teka-teki
Pada ’20 Keping Puzzle Cerita’ saya disajikan sekumpulan fiksimini yang mengisahkan tentang peristiwa kematian seseorang. Teka-teki yang sudah cukup membingungkan tersebut semakin diperparah dengan pengaburan tokoh antara ‘Aku (yang juga berperan sebagai narator cerita), Kau, dan dia (bayang-sosok tokoh lain, yang mungkin juga adalah si ‘aku’ atau si ‘kau’), yang tersajikan pada bagian terakhir dari sekumpulan fiksimini tersebut. Saya benar-benar bingung pada bagian ini.
Pada ‘Episode’ saya teringat akan sebuah cerita misteri anak-anak “Goosebumps” karya R. L. Stine. Yakni ciri khasnya yang terletak pada perpindahan plot yang dapat melompat-lompat. ‘Episode’ terdiri atas beberapa bagian Satu hingga Tiga Belas, dan pada tiap bagian si narator menawarkan pembaca untuk meloncat ke bagian-bagian lain yang tidak pada urutannya. Tapi saya mencoba membacanya dengan berurutan saja, dan ternyata efeknya begitu kentara terlihat perbedaannya kalau saya mengikuti ‘tawaran’ si narator untuk membacanya meloncat-loncat. Masih kalah dengan teknik puzzle “Goosebumps”.
—Sekilas Tentang “Potongan Cerita di Kartu Pos”
Tentang kumpulan cerpennya “Potongan Cerita di Kartu Pos” yang terbit tahun 2006? Tak jauh beda dengan “Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia”. Tetap bernuansa fantasi surreal yang dikemas ringan, seperti pada cerpen “Komposisi untuk Sebuah Ilusi” yang menceritakan tentang kisah cinta sebuah manekin dengan seorang pria; “Pagi Bening Seekor Kupu-kupu…” yang menceritakan tentang seorang bocah yang bertukar tubuh dengan seekor kupu-kupu; “Mata Mungil yang Menyimpan Dunia” tentang seorang bocah yang memiliki mata terindah; “Dongeng buat Pussy (atawa: Nightmare Blues”) tentang seorang nenek yang menceritakan dongeng kepada cucu(?)nya.
Ada juga cerpen yang mengangkat topik-topik aktual seperti pada cerpen “Sirkus”dan “Cerita buat Bapak Presiden…” yang tetap dikemas dengan nuansa fantasi. Juga ada kisah-kisah tentang kematian—“Tiga Cerita Satu Tema” yang dituturkan dalam bentuk puzzle seperti pada cerpen “Puzzle Kematian Girindra”, yang tak membawa saya ke jawaban apa-apa (mungkin karena otak saya belum sampai levelnya kali ya? -___-“). Dan kumpulan fiksimini pada cerpen “Potongan-potongan Cerita di Kartu Pos”.
Secara keseluruhan, saya merasa cocok dengan gaya narasi Agus Noor dan model fiksimininya. Cerita model fiksimini tersebut lebih nyaman dibaca sehingga walaupun idenya merupakan fantasi tingkat tinggi namun tetap enak ditelusuri. Recommendeddeh!
Ciao!. . . . Sumber: entahlah. waktu saia copas dari blog sobat, saia lupa copy alamat blog-nya. setelah saia tanyain mbah google sesuai judul, ternyata nyasar ke sebuah forum. Berarti artikel aslinya dari forum tersebut kali ya?
Semoga artikel SEPOTONG BIBIR PALING INDAH DI DUNIA bermanfaat bagi Anda.
Artikel terkait SEPOTONG BIBIR PALING INDAH DI DUNIA
Label:
Sastra

Posting Komentar
TERIMAKASIH KOMENTAR ANDA